Visitor




Kalender

Artikel  Riba Oleh;  Zul Abdul Rahman.

Allah swt melarang keras praktek riba seperti firmanNya dalam surat Al-Baqarah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman (QS.Albaqarah(2):278).

Kemudian di ayat 279

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa kamu mengumumkan perang kepada  Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menzalimi  dan tidak (pula) dizalimi. (QS.Albaqarah(2):279).

Sebegitu kerasnya Allah dan rasulNya melarang riba, maka sudah  pasti ada konsekwensi bagi yang melanggar  di dunia dan di akhirat.

Secara etimologi/bahasa riba berasal dari kata : raba – yarbu – ribaan yang artinya ziyadah atau tambahan. Akar kata ربو yang menjadi sumber kata riba, digunakan dalam al- Qur‟an sebanyak dua puluh kali (QS. al-Baqarah [2]:265, 275, 276, 278; Ali Imran [3]:130; al-Nisa‟ [4]:161; al-Ra‟d [13]:17; al-Nahl [16]: 92; al-Isra‟ [17]:24; al-Hajj [22]:5; 23:50; 26:18; 30:39; 41:39; 69:10).

Ada delapan kali terminologi/istilah riba digunakan dalam Al-quran (QS. al-Baqarah [2]: 275, 276, 278; Ali Imran [3]:130; al-Nisa‟ [4]:161; 30:39). Akar kata ربو dalam al-Qur‟an memiliki makna,  “tumbuh‟ (QS. al-Hajj 22:5), “menyuburkan‟ (QS. al-Baqarah [2]:276; 30:39), “mengembang‟ (QS. al-Ra„d [13]:17), dan “mengasuh‟ (QS. al-Isra‟ [17]:24; 26:18, “menjadi besar‟ dan “banyak‟ (QS. al-Nahl [16]:92). Akar kata ini juga digunakan dalam arti “dataran tinggi‟ (QS. al-Baqarah [2]: 265; 23:50).  umumnya  memiliki satu makna, yaitu “bertambah‟, baik kualitas maupun  kuantitas.

Menurut fatwa MUI Nomor 1 tahun 2004 riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.

Sementara Syaikh Abdurrahman al-Jaziri dalam Kitāb al-Fiqh alā Madzāhib al-Arba’ah menjelaskan bahwa riba menurut istilah fukaha adalah tambahan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sejenis yang ditukar tanpa adanya imbalan/imbangan terhadap tambahan tersebut

Barang ribawi  terdiri dari 2 kelompok dan 6 jenis, Kelompok pertama terdiri dari emas dan perak, kelompok kedua terdiri dari gandum halus, gandum kasar, garam dan kurma.

Dalilnya adalah:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلا بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِي فِيهِ سَوَاءٌ

Diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan denga riba. Penerima dan pemberi statusnya sama (berdosa).” (Shahih Muslim no. 2971)

Parar ulama mengelompokkan barang ribawi pertama sebagai kelompok nilai tukar dan kelompok barang ribawi kedua sebagai kelompok makanan pokok. Mengapa disebut barang ribawi?, karena bila barang barang ini dipertukarkan harus memenuhi persyaratan takaran, timbangan dan waktu pertukaran.

Riba  terbagi menjadi dua kelompok,  yaitu riba dari aktifitas utang-piutang dan riba dari aktifitas jual-beli.  Riba dari aktifitas utang-piutang dapat dibedakan menjadi  riba qardh dan riba jahiliah,  Riba QardhRiba Qardh adalah riba yang dihasilkan dari tambahan pengembalian pokok pinjaman yang disyaratkan kepada peminjam. Riba ini terjadi, apabila pemberi utang mengambil kelebihan dari penerima utang.

Riba Jahiliyah yaitu utang yang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu bayar utangnya pada waktu yang ditetapkan

sedangkan riba aktifitas jual-beli dapat dibedakan atas  atas riba fadhl dan riba nasi’ah. Riba Fadhl yaitu pertukaran antara barang-barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis ‘barang ribawi’. Riba Nasi’ah yaitu penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi dengan jenis barang ribawi lainnya

Menurut  Ahmad Musthafa al-Maraghi,  dalam Tafsīr al-Marāghī  tahap-tahap pembicaraan al-qur‟an tentang riba sama dengan tahapan pembicaraan tentang khamr (minuman keras), yakni ada empat tahap dalam pengharamannya.

Tahap Pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba akan menambah harta dan menolong mereka yang memerlukan, karena hasil riba tidak bertambah dan  bermanfaat disi Allah dan adanya isyarat keharaman, terdapat pada (QS. al-Rum [30]:39)

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya  (QS. an-Nisa [4]:161). Pada        

Tahap kedua, riba yang dijalankan oleh orang yahudi digambarkan sebagai suatu yang buruk yaitu dengan mengambil harta orang lain secara bathil dan balasan yang keras kepada orang  yang  melakukan praktek  riba.

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan disebabkan mereka (orang yahudi) menjalankan riba, padahal esungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.

Tahap ketiga, riba itu diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Menunjukkan karakter riba yang berlipat ganda atau adh’āfan mudhā’afah, ini bukan berarti riba dengan keuntungan sedikit dibolehkan.  (QS. Ali Imran [3]: 130)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Dan terakhir, pengharaman total riba  dalam semua jenis dan keadannya yaitu  pada (QS.Al-Baqarah [2]:275-281).

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]:275)

Asbabun Nuzul ayat ini dari “Zaid bin Aslam dan yang lainnya menuturkan bahwa  ayat itu diturunkan berkaitan dengan bani Amr bin Umeir dari Tsaqif dan berkaitan dengan bani Mughirah dari Bani Makhzum. Telah terjadi praktek riba di antara mereka pada masa jahiliyyah. Setelah Islam datang dan mereka memeluknya, Tsaqif minta hartanya dari Bani Mughirah. Kemudian mereka bermusyawarah. Bani Mughirah berkata, “Kami tidak akan melakukan riba dalam Islam dan akan menggantinya dengan usaha yang islami.” Kemudian Utab Ibnu Asid, pemimpin Mekkah, melaporkan hal itu kepada Nabi saw dalam sepucuk surat. Maka diturunkanlah ayat di atas. Lalu, Rasulullah saw membalas Utab dengan surat yang berbunyi, “Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba, apabila kamu adalah orang- orang yang beriman. Apabila kamu tidak melaksanakan, maka ketahuilah kamu mengumumkan perang kepada Allah dan Rasul-Nya” Maka mereka berkata, “Kami bertobat kepada Allah dan kami akan meninggalkan sisa riba. Maka mereka semua meninggalkannya.” Maka hindarkanlah dirimu dari keterlibatan dengan jual beli riba, karena Allah telah meluaskan perkara halal dan menjadikannya baik. Maka jangan sekali- kali kamu terperosok ke dalam kemaksiatan kepada-Nya.

Dewasa ini praktek riba telah begitu masif yang hampir keseluruhannya disebabkan oleh utang piutang.

Rasulullah saw bersabda dalam Shahîh Al-Bukhâry, dari Abu Burdah bin Abu Musa radhiyallâhu ‘anhu, beliau menyebutkan nasihat Abdullah bin Salâm radhiyallâhu ‘anhu kepada beliau. Abdullah bin Salâm radhiyallâhu ‘anhu berkata,

إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Sesungguhnya engkau berada pada suatu negeri  yang riba tersebar pada (negeri) tersebut. Apabila engkau memiliki hak (piutang) terhadap seseorang, kemudian orang itu menghadiahkan sepikul jerami, sepikul gandum, atau sepikul makanan ternak kepadamu, janganlah engkau ambil karena itu adalah riba.”

Selain itu, kaidah yang para ulama sepakat dalam masalah utang-piutang  yaitu:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

“Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat pada pemberi pinjaman adalah riba”

Ada sebagian orang  berpendapat menolong orang yang butuh biaya dengan meminjamkan sejumlah uang adalah kebaikan,  terutama untuk keperluan hidup yang mendesak  atau untuk kegiatan produktif. Misal membeli beras, membeli baju, keperluan anak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, membeli sepeda motor atau kenderaan untuk transportasi agar  lebih efisien,  membeli rumah untuk tempat tinggal,  untuk pernikahan. Atau untuk memulai atau mengembangkan usaha.  Mereka berargumen pemberi pinjaman harus mendapat lebih ketika uang dikembalikan dibanding pada saat awal diberikan pinjaman, karena nilai uang akan tergerus oleh inflasi. Contoh inflasi adalah misal saat ini kita memberi beras ramos 10ribu 1 liter maka 1 tahun depan harga beras ramos itu rp.15ribu, sekarang 10ribu dapat 1 liter tahun depan 15ribu baru dapat 1 liter, artinya nilai uang berkurang atas barang, ini disebut inflasi. Mereka menganggap wajar pemberi pinjaman mendapat untung dari kegiatan menolong melalui utang tersebut. 

Sebagaimana firman Allah swt dalam Surat Al-Ma’idah (5) Ayat 2

ُ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah (5):2)

Sebagian lagi berpendapat boleh mengambil untung dari utang piutang selama pihak yang terlibat  sama sama suka, ikhlas dan ridha atas transaksi yang dilaksanakan,  sebagaimana firman Allah swt dalam Al-quran surat 4(An-nisa) ayat:29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa (4): 29)

Ayat ayat yang disampaikan diatas pasti benar.  Namun Saling suka, ikhlas dan ridha yang menjadi syarat halal transaksi yang disebutkan dalam ayat ini, berlaku hanya untuk transaksi yang halal. Seperti jual beli barang dan jasa, atau kerjasama bagi hasil. Sementara transaksi haram, seperti jual khamar, jual khinzir (daging babi), dan praktek riba, tidak berlaku ketentuan saling ridha. Karena dasar transaksinya adalah dilarang, sehingga tidak bisa merubah hukum.

Lebih jauh bila  saling suka, ikhlas dan ridha dilihat dari pihak pemberi pinjaman seolah  tidak bermasalah, karena pada dasarnya pemberi pinjaman mendapat keuntungan dari pengembalian pinjaman nantinya, namun tidak demikian bagi  pihak peminjam   (penerima pinjaman),  jujur dari hati terdalam akan merasa berat atau  bahkan bisa sangat sangat berat  dengan adanya tambahan pengembalian, misal pinjam 10 juta, selama 10 bulan bayar perbulan 1,1 juta  maka total pengembaliannya jadi 20 juta. Belum lagi bila pinjaman tersendat pengembaliannya maka barang pinjaman atau jaminan akan disita dan dilelang. 

Dengan demikian kegiatan utang piutang pinjam meminjam justru dapat menghilangkan sifat dan sikap saling tolong menolong karena ada pihak yang teraniaya, dengan demikian hakikat  tolong menolong dengan tujuan untuk meringankan orang  yang ditolong otomatis hilang tergantikan dengan praktek eksploitasi.

Bagi penerima pinjaman yang pinjamannya  digunakan untuk memulai  usaha baru atau mengembangkan usaha yang telah ada, bisa jadi dalam pelaksanannya tidak berjalan lancar walaupun penerima pinjaman sudah berusaha keras, usahanya tetap berjalan stagnan atau merugi, atau bahkan bangkrut, sementara kewajiban cicilan setiap bulannya harus dibayar. Menurut  data   sebanyak  95% orang yang menjalankan usaha berjalan stagnan atau merugi dan hanya 5% yang berhasil atau maju dari kegiatan usahanya. Dalam hal ini berarti telah terjadi praktek ketidakadilan yaitu Pemberi pinjaman sudah pasti mendapat keuntungan sementara si penerima pinjaman  kebanyakan akan bertambah kesulitannya,  berarti terjadi  praktek aniaya/zalim. Allah melarang sesuai firmanNya dalam QS.2 (Al-Baqarah):279

َ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak meninggalkannya (sisa riba), maka kamu mengumumkan perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menzalimi/menganiaya dan tidak (pula) dizalimi/dianiaya.

Disi lain menurut Alquran  orang yang berutang adalah  kesulitan dan harus dimudahkan.

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia ada kelapangan.  Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. QS:2(al-Baqarah):280

Alasan mencari untung karena alasan adanya inflasi juga tidak dapat dibenarkan, karena  bila seseorang  ingin mempertahankan nilai uang terhadap barang atau meningkatkan nilai uang atau nilai keuntungan maka harus dilakukan dalam Islam  adalah dengan melakukan kegiatan perdagangan atau jual beli, jasa atau melakukan kerjasama usaha (mudharabah/syirkah). Adalah terlarang menambah nilai uang atau mencari keuntungan dari penerima pinjaman, disebabkan adanya  praktek menzalimi  seperti yang telah diuraikan diatas.

Jadi mau tidak mau suka tidak suka kita wajib meninggalkan riba, banyak sekali hadits tentang larang riba diantaranya adalah:

َعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“DariJabir r.a. dia berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulis dan dua saksinya, beliau bersabda, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Hadits lainnya:

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Al- Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw. bersabda, “Riba itu mempunyai 73 pintu (tingkatan); yang paling rendah (dosanya) sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya.” (H.R. Ibnu Majah).

Solusi Menghindari Riba

  1. Niat yang kuat untuk meninggalkan dan menghindari riba untuk mencari ridha Allah. Innama amalu binniat, sesungguhnya segala sesuatu itu dimulai dengan niat.
  1. Jangan Berutang kecuali darurat, sebaiknya menggunakan tabungan bila ada daripada tetap mempertahankan tabungan namun berhutang untuk memperoleh sesuatu kebutuhan, pada dasarnya beban nilai uang pinjaman akan selalu lebih besar dari pada keuntungan nilai uang investasi/tabungan. Setiap keuntungan tambahan dari pengembaian utang adalah riba
  1. Buang Image berutang berarti seseorang telah dipercaya oleh pihak bank, karena sulitnya untuk mendapatkan pinjaman. Sebaliknya buat image bahwa berutang berarti akan menambah beban yang dipaksakan melebihi kemampuan.
  1. Bila terpaksa memang harus berutang untuk hal yang mendesak atau untuk meningkatkan efisiensi kehidupan atau mengembangkan usaha, maka sebaiknya dilakukan melalui pembiayaan  dengan  Bank Syariah atau lembaga pembiayaan syariah. Sesuai keputusan MUI  praktek formal  pada Bank Syariah atau unit pembiayaan syariah yang diakui negara  adalah halal karena memiliki akad dan sistem bagi hasil, berpedoman pada konsep jual beli atau bagi hasil bukan konsep utang piutang. walaupun pada prakteknya belum 100% benar-benar sesuai prinsip syariah yaitu adanya praktek pelelangan bila penerima pinjaman tidak dapat melunasi (dapat dipastikan merugikan pihak penerima pinjaman), serta sulitnya apabila seseorang ingin ingin melunasi pembiayaannya.

Dalil diperbolehkannya bagi hasil itu adalah:

Kaidah fiqih:

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Hukum asal dari sesuatu (muamalah) adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Abbas bin Abdul Muthallib (paman Nabi)  jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib (pengelola) nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib/pengelola) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya. (HR. Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra

Contoh pembiayaan sederhana:

Bila seseorang ingin pembiayaan sepeda motor, maka bank yang akan membeli. Lalu Bank menjual kembali  kepada orang tersebut dengan akad jual beli (murabahah)

  1. Untuk jumlah pembiayaan atau investasi yang skala kecil menengah, adalah melalui lembaga-lembaga  Crowfunded yang bekerja dengan prinsip bagi hasil,  dan telah diakui oleh  Otoritas Jasa Keuangan.
  1. Bila menyimpan tabungan, tabunglah di lembaga keuangan syariah, karena menggunakan akad wadiah (titipan), atau mudharabah (bagi hasil).
  1. Saran kepada lembaga regulator dan operator Pembiayaan Syariah, regulasi harus sesuai prinsip syariah, yang utama dan paling utama adalah “bagi untung dan bagi rugi”. Bila lembaga syariah berperan aktif  maka “bagi untung” akan selalu diraih. Masing-masing  pihak yang terlibat dalam pinjam-meminjam harus siap dengan kondisi ini, tentu diperlukan proses edukasi yang berkesinambungan. Bila memungkinkan adanya regulasi bahwa seseorang/lembaga  penerima pinjaman usaha adalah secara otomatis menjadi bagian dari anak usaha independen lembaga keuangan yang meminjamkan dananya tersebut, sampai pinjamannya lunas.  Kemauan politik dari pemerintah dan legislatif untuk memajukan ekonomi islam adalah basis utama kemajuan ekonomi syariah nonriba. Memberi ruang besar dan kesempatan kepada para ekonom dan stakeholder yang berpihak kepada ekonomi syariah untuk berkiprah. Lembaga pembiayaan syariah seharusnya selalu menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga semakin cepat seorang peminjam melunasi pinjamannya maka  akan semakin lebih baik, dengan memberi insentif yang dapat memacu seseorang untuk sesegera mungkin melunasi pinjamannnya, bukan sebaiknya, dipersulit.

Kita tidak tahu kenapa doa-doa kita tidak diijabah atau dikabulkan oleh Allah swt. Ingin hidup penuh sakinah mawaddah warahmah penuh ketenangan tapi hidup dirundung masalah, ingin punya suami/isteri/anak-anak soleh tapi  malah pada susah diatur. Barangkali sadar atau tidak, kita masih terlibat dalam praktek riba, semoga Allah swt menolong kita memberi kekuatan untuk menghindari riba, dan mengabulkan doa-doa kita.

Wallahu a’lam.

Gallery
Ya Habibi

Jam
whatsapp
whatsapp